Hi, guest ! welcome to VIOLET CAFE. | About Us | Contact | Register | Sign In

Senin, 14 November 2011

Home » , , » [Diary Sang Penggoda] Cintaku Untuk Suamimu

[Diary Sang Penggoda] Cintaku Untuk Suamimu

Oleh : Youly Chang


Sore ini langit agak mendung, matahari sedikit tertutup awan yang berarak, sebentar lagi hujan, angin berhembus kencang menyapa kulitku ketika wanita itu datang.

Ya, wanita itu, seorang ibu muda berkulit kuning langsat, rambutnya di cat warna coklat, serasi sekali dengan penampilannya, anggun dan cantik. Ya aku ingat wanita itu, wanita yang pernah melabrakku, menghinaku dengan sebutan wanita pelacur, penggoda suami orang, hanya karena dia menemukan fotoku di dompet suaminya, beserta surat-surat cinta yang diberikan suaminya kepadaku lewat email. Sayang sekali…

Saat ini dia sudah berada di hadapanku, namun kali ini dia bawakan deal atau tepatnya deal transaksi tukar suaminya dengan uang, sebuah penawaran cukup menggairahkan dan manis, kulihat sepintas nilainya sama dengan cincin berlian idamanku, dengan sombongnya dia menawarkan sejumlah uang agar aku mau memutuskan hubungan dan melepaskan suaminya.

“Hai jalang, katakan berapa yang kau butuhkan, kuberikan berapapun untuk suamiku!” katanya dengan sangat angkuh.

Suaranya agak keras, sedikit emosional, ini wajar, mungkin dia marah padaku karena suaminya main gila denganku.

Masalahnya? Benarkah Cuma aku yang salah?

“Maaf, aku tak ingin uangmu, aku Cuma ingin suamimu, itu saja”

Tenang, nyaris tanpa ekspresi ketika kujawab pertanyaan anehnya

“Lancang kamu!!… dia sedikit menghardikku, wajahnya terlihat geram dan marah.

“Kau tidak lebih dari sekedar pelacur murahan yang di bayar untuk tidur dengan suamiku!!”

“Sabar dulu….., take it easy… pelankan sedikit suaramu, tak perlu menghardikku, atau apakah kau juga terbiasa menghardik suamimu layaknya seorang pelayanmu?”

“Harusnya kamu tanya pada diri kamu sendiri, mengapa suamimu lebih suka bersamaku dari pada denganmu, istrinya sendiri..!”

Wanita itu mengepalkan tangannya, tertunduk lunglai, perlahan airmatanya mengalir. Dia terduduk. Diam. Hening.

“Selama ini kau tidak begitu memperhatikan dia, kau sibuk dengan kehidupan glamourmu, jadwalmu padat dengan urusan diluar keluargamu, anak-anakmu bahkan bingung yang mana ibunya, kau atau pembantumu?, kau sibuk dengan duniamu. Sedikitpun kau tak pernah memperhatikan keperluan suamimu”.

“Jangan salahkan aku….!”

“Suamimu hanya merasa kesepian, apa yang dia butuhkan tidak kau penuhi, dan dia mendapatkan semuanya dariku. Tiap saat dia menemuiku. Tiap malam dia memintaku untuk menemaninya. Dan kami bercinta, kepuasan itu tak ada harga!”

“Tak perlu menangis..!”

“Aku bukanlah wanita yang kejam seperti yang kau kira, aku bukan pembunuh apalagi perampok, aku tidak berniat merebut ayah dari anak-anakmu, aku hanya menginginkan apa yang aku mau, aku menikmati suamimu. aku menikmati rasa cintanya padaku. aku hanya butuh kepuasan, setelah itu dia boleh pulang kerumahmu dan kembali menjadi milikmu.

Pulanglah….aku cuma ingin bercinta dengan suamimu…tidak lebih

Berjalan tenang, kutinggalkan perempuan itu, dia masih tertunduk lesu dengan selembar cek ditangan.

Share on :

Poskan Komentar