Hi, guest ! welcome to VIOLET CAFE. | About Us | Contact | Register | Sign In

Senin, 14 November 2011

Home » , , » Sang Penari [Striptease]

Sang Penari [Striptease]

Oleh : Youly Chang


“Aku adalah sebuah kutukan,demikian sang angin mengabarkan sebuah cerita. Lewat deburan ombak dipantai, mereka bertutur tentang biruku yang pudar. Hingga akhirnya, aku mencuri lempengan merah pada sang pelangi, agar biruku bercampur dengan merah, dan kini hanya violet yang tersisa. aku ada pada malam tak berawan, mungkin mereka terlalu menikmati dan memuja bulan, sehingga mereka lupa pada sang bintang”.

Dentuman musik berkumandang, pertanda puncak acara akan segera di mulai, buru-buru kuselesaikan dandananku, “perfect” gumamku dalam hati, aku begitu mengagumi diriku sendiri. Perlahan tapi pasti aku keluar dari balik panggung gemerlap, tepuk tangan para penonton, seakan tak sabar menanti aksiku.

Kuikuti hentakan music, sambil memulai aksiku, perlahan satu persatu kulepaskan baju yang membungkus tubuhku, sambil terus melenggak-lenggokkan tubuh kulempar bajuku ke arah tamu, suara gemuruh tawa dan teriakan dari para lelaki yang duduk di kursi meminta agar aku terus melepaskan bajuku hingga tak selembar kainpun melilit di tubuhku. Namun aku sengaja tak menghiraukannya, aku terus bergoyang, mendekati seorang pria setengah baya, kulenggokkan pinggulku padanya, dia sepertinya tau apa yang kuinginkan, lelaki itupun menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke underwearku, lalu perlahan kubuka underwearku sambil terus bergoyang, dihadapan lelaki itu, suara nafasnya menjadi tak karuan, lalu kutinggalkan lelaki paruh baya tersebut ke lelaki lainnya yang tak sabar ingin menikmati aksi ku di hadapan mereka, mereka para penikmat malam tampak sangat puas dengan penampilanku, mereka mengagumi setiap lekuk tubuhku. Aku berpesta, dan aku puas malam ini. Akulah Sang Bintang, orang-orang manggilku Diva.

Aku hanya seorang penari, tepatnya penari streaptease yang dibayar hanya untuk menari. Tapi tidak untuk di tiduri. Bukan untuk materi melainkan hanya untuk sebuah kesenangan, aku terlahir dari keluarga yang serba berlebihan, ayahku adalah orang yang cukup terpandang di negri ini, namun aku tak peduli, aku muak dengan segala kemunafikan. Aku merasa ada kesenangan tersendiri saat melihat para pria hidung belang begitu menikmati tarian tubuhku yang indah, ada berapa banyak yang ingin membayarku, hanya untuk tidur dengan mereka. namun kutolak.

Malam ini penampilan yang kesekian dariku,namun kali ini agak sedikit berbeda dari biasanya, kata bosku, tamu-tamu kali ini adalah tamu exclusive.

“kamu harus mengerahkan semua kemampuanmu Diva” tamu-tamu kita malam ini adalah petinggi negeri. Mereka ingin menikmati malam bersamamu Diva Sang Primadona Malam. Aku hanya tersenyum sembari mempersiapkan diri untuk penampilanku malam ini.

Aku keluar dari panggung, kali ini mengenakan topeng menyerupai angsa putih, lalu para pejabat mulai bertepuk tangan. Aku kembali memulai aksiku. Menari, bergoyang, meliuk-liukkan tubuhku. Perlahan aku membuka satu persatu kulepaskan bajuku, hingga tak selembar kainpun menutupi tubuhku, lalu kubuka topengku.

Namun tiba-tiba dari antara penonton yang hadir, ada seorang lelaki paruh baya naik kepanggung dan..

PLAK!!!!! Dia menamparku, mengambil bajuku yang berserakan agar menutupi tubuh telanjangku, dan menarik tanganku. Namun kutepis.

“Apa-apaan ini?????!!!!…Kau berani mempermalukanku didepan umum, ayo pulang!!” kata laki-laki paruh baya itu menghardikku sambil menyeretku turun dari panggung.

“Aku tidak mau pulang!! Ini duniaku!! “Tak kalah sengit aku membalas hardikannya, seraya berusahan melepaskan cengkraman tangannya padaku.

“Kurang apa selama ini yang aku berikan padamu, heh!! sehingga kau berani-beraninya mempertontonkan tubuhmu kepada semua lelaki???!!!! Apa tidak cukup aku menjaminmu setiap bulan? Kenapa kamu harus mencari uang haram dengan cara seperti ini????” lelaki itu tampak sangat marah padaku.

“Apaa??? Malu???Uang Haram???? Mengerti apa bapak tentang uang haram?? Lantas selama ini uang yang bapak pakai untuk bersenang-senang serta memperkaya diri, dari hasil mencuri uang rakyat kecil, apa itu bukan uang haram??? ,tak dapat kubendung lagi emosiku, aku muakk dengan kemunafikannya.

Lelaki paruh baya itu tertunduk malu. Entah malu pada orang banyak atau malu pada dirinya sendiri, entahlah.

“Aku memang menghasilkan uang dengan jalan yang haram, tapi yang kukorbankan adalah diriku sendiri, hidupku sendiri, dan tubuhku sendiri. Bukan seperti bapak, yang bersenang-senang dengan uang hasil korupsi, yang mengorbankan rakyat banyak!!”.

Lelaki itu hanya bisa diam, dia tak lagi membalas ucapanku. Lelaki itu adalah ayahku, seorang pejabat pemerintahan yang rakus kekuasaan dan materi, yang tanpa perasaan berdosa mencuri uang rakyat demi kesenangan pribadi. Pernah masuk bui atas tuduhan korupsi. Namun tidak lama ia dibebaskan dari hukuman karena sudah menyogok sang hakim.

Aku tidak malu dengan pekerjaanku sebagai penari streaptese, aku lebih malu lagi punya ayah seorang koruptor.

Aku melangkah pergi meninggalkan tempat ini…..

“Menyesal? Tidak, Hidup terlalu indah jika hanya diisi dengan penyesalan. Aku tidak akan pernah menyesal, karena alam sendiri tidak pernah menyesal mengikuti aturan mereka…… “

****White Lily****
Share on :

Poskan Komentar