Hi, guest ! welcome to VIOLET CAFE. | About Us | Contact | Register | Sign In
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2011

{Diary sang Penggoda} Suamimu Masih Mencintaiku

Oleh : Bernizca Farazeta


Hand phone ku bergetar, sengaja nada deringnya tidak ku aktifkan…kulirik sekilas nomer yang muncul di layar hand phone ku, dan lagi-lagi nomer mu hadir di situ…

”Tinggalkan suamiku, jangan kau ganggu dia…hentikan perbuatanmu jangan kau teruskan cinta terlarang itu, bercerminlah!!! siapa dirimu sesungguhnya!!! kaulah penghancur rumah tangga ku “

Seperti di guyur air rendaman es balok sekujur tubuhku menggigil meredam amarah, hanya dzikir perlahan aku lantunkan untuk meredam emosi ini…Siapa dia, dan apa maksud pesan ini semua….

Kepalaku semakin pening, benturan keras yang kualami semalam saat kecelakaan di jalan tol ketika menuju bandara semakin terasa menghunjam setelah membaca pesan itu, dan kondisiku semakin parah dengan tuduhan itu…namun aku dengan diamku hanya termangu sambil menggenggam BB itu erat di genggamanku…

Cinta,

Ini semua karena cinta, cinta yang definisinya selalu berubah tanpa tahu kondisi dan waktu. Dia mencintaiku, lebih…bahkan amat lebih…kau menuduhku tanpa alasan dan kau mengajariku seolah-olah akulah biang keladinya.

Harusnya cermin itu untukmu…bukan untukku…

Tanyakan ke nuranimu, mengapa suamimu harus lari ke pelukanku, mengapa suamimu harus merasa nyaman dalam dekapanku, mengapa suamimu harus merasa tenang meski hanya cukup mendengar suaraku….

Salahkah aku jika aku terlahir sebagai wanita cantik dan memiliki sex appeal yang tinggi, bukankah itu sudah kehendak-Nya…

Aku hanya datang dengan kebaikan tanpa ada niat nafsu dan keinginan menggoda atau menghancurkan rumah tanggamu seperti yang kau tuduhkan, namun pertemuanku dengan suamimu adalah skenario yang di kehendaki-Nya.

Sapa dan persahabatan itulah awalnya, segala kebaikan itulah tujuannya, kita bercengkrama tak ubahnya sahabat lama, namun semua itu menjadi lain…ya, semakin lain….suamimu tergoda aku, padahal sungguh aku apa adanya dan tulus tak ada niat untuk menggoda. Aku hanyalah aku…dengan segala apapun di diriku, namun suamimu melihat lain di diriku, dia melihat aku sosok yang berbeda…kecerdasanku, kecantikanku, diamku, santunku, kebaikanku dan sikap memahamiku dan kerap menjadi pendengar yang baik di saat dia butuh teman dan entah apapun itu, justru itulah yang membuatnya semakin jatuh cinta lagi kepadaku…

Senja semakin merekah…

Perlahan aku turun dari atas tempat tidur rumah sakit ini…Tuhan tahu hikmah apa yang ada di balik ini semua.

Dua hari setelah di rawat di rumah sakit akhirnya aku putuskan untuk kembali beraktifitas, aku bukan sosok yang harus larut dan menyikapi sesuatu dengan seenaknya, aku adalah sosok pejuang, tidak akan pernah berhenti di satu titik, lemah dan air mata bukan gayaku…air mata cukup hadir disaat aku bermunajat dengan kekasihku yaitu Rabb-ku…buatku setiap peristiwa adalah episode dari-Nya.

Langit sangat cerah, awan menaungiku menemani dalam lintasan langkahku…masih seperti biasa dan semua telah berada di tempatnya sesuai dengan kehendak-Nya meski dengan porsi kenikmatan yang berbeda-beda…

Aku kembali hadir di tengah-tengah kecintaanku, bertumpuk-tumpuk buku tebal dan lap top serta seluruh mahasiswa dan mahasiswiku…menerjemahkan segala hal yang tak terlihat dan tersentuh, asyik dengan keasyikan hingga waktu tanpa terasa harus segera pergi….

Sejenak sebelum meninggalkan kampus, aku berdiri di depan kaca jendela…menatap ujung horison yang tak terlihat ujungnya…

Tiba-tiba hand phoneku berdering, kulihat nomer suamimu di layar hand phoneku…aku malas mengangkat dan menerimanya, namun deringan itu tidak berhenti, hingga tiga belas kali nada panggilan tak terjawab…aku lelah, lelah dengan nada dering itu….entah mengapa kuangkat juga…dan aku kalah lagi…

” sayang…ku mohon maafkan aku…maafkan…”

suara itu, masih seperti yang dahulu…suamimu selalu memanggilku dengan kalimat itu, dia mencintaiku…sadarkah kamu, tahukah kamu?

Dan aku selalu berusaha menghentikan itu, namun suamimu selalu memohon kepadaku untuk aku tidak meninggalkannya. Aku sungguh muak dan amat marah bahkan sakit dengan ini semua…kau dan suamimu telah menyakitiku, kau permalukan aku di hadapan seluruh teman-temanku dan itu semua tak ada habisnya, namun aku hanya bisa diam…ya, diam seribu bahasa…aku selalu dengan kebaikanku…namun tahukah kau aku diam bukan berarti bodoh, aku diam karena aku kasihan dengan dirimu…dan aku hanya memberikan mainan atau kesenangan untukmu agar kau bisa tertawa dan pus meski aku tahu justru sebaliknya kau akan lebih menderita…karena aku tahu jika kau sesungguhnya di mata suamimu dari bertahun-tahun yang lalu sudah tidak terlihat cantik dan menarik baik dari segala hal….

Dan tahukah kamu jika suamimu selalu bergairah meski hanya mendengar suaraku saja, padahal itu baru suaraku saja…dan selanjutnya aku rasa kau bisa mengartikannya sendiri…

Suamimu telah lelah di sampingmu, dia bertahan karena rasa kasihan dan kewajban…lalu dimana aku menggoda suamimu??? coba tunjukan… namun ya, sudahlah aku terima segala tuduhan itu semua…karena aku yakin TUhan pasti akan tunjukan siapa juaranya…

Aku berdiri di pinggir jendela menatap keatas langit teringat bagaimana suara itu masih menggema di telingaku ” sayang…tanpa kehadiranmupun sesungguhnya rumah tanggaku sudah hancur beberapa tahun yang lalu, aku lelah dengannya, bertahun-tahun aku yang selalu mencoba bertahan dan menumbuhkan perasaan cinta, namun kini perasaan itu telah mati…mati dan tidak akan pernah kembali tumbuh lagi “

Tahukah kau…cinta suamimu telah mati terhadapmu, yang tertinggal hanya perasaan kasihan dan kewajban saja…lalu siapa yang harus disalahkan, sedangkan dulu dia selalu berjuang sendirian…dan kamu di mana saat itu??

Harusnya cermin itu untuk dirimu…

Sudahkah kau sebagai istri telah berposisi menjadi seorang istri…

Sudahkah kau belajar memahami dan tahu tentang dia sesungguhnya tanpa harus selalu menuntut untuk dia memahanimu terus, sudahkah kau belajar mencintai terlebih dahulu tanpa harus menuntut untuk dia mencintaimu dahulu, sudahkah kau selalu bersabar dan ada di saat dia terjatuh dan butuh nasehat atau teman atau bahkan dorongan semangat di saat dia kehilangan arah dan jatuh dari segala impiannya…tahukah kau ada kalanya dia merasa lelah, dan di saat lelah itulah kelak dia akan mencari sosok-sosk yang lebih baik dan mulia darimu…

Namun aku tetaplah aku…aku dengan kesederhanaanku, aku dengan diam dan acuhku, aku dengan ketidak sempurnaanku, aku hanya datang dalam lintasan episode ini, aku selalu yakin bahwa ini bukanlah ujian…namun ini adalah siratan yang telah tersurat atas kehendak-Nya, dan apapun bentuk episode itu aku selalu menghargai dengan bijak dan selalu ku telaah skenario apa yang ada di balik ini semua, yakinku pada-Nya ini semua terjadi karena suatu bentuk pembelajaran hidup kepadaku untuk lebih bijak dalam melangkah dan lebih bermuhasabbah diri lagi ke depannya….

Perlahan semua menjadi luntur…dan senja kembali perlahan menghampiri, perlahan aku kemasi tumpukan buku-buku tebalku san ku tutup lap top ku, kakiku terasa ringan melangkah keluar…menuruni anak tangga kampus, entah mengapa aku menginginkan anak tangga ini…bukan lift yang ku tuju, aku ingin menikmati sensaninya sejenak….

Sepoi angin sore mempermainkan pashmina jingga ku, rokku melambai meliuk-liuk diterpa semilir sejuk angin senja ini…semua terasa penuh, aku sangat bahagia….entahlah aku selalu merasa apapun episode itu aku merasa akulah sang juaranya, aku semakin banyak mengerti dan satu koleksi kalimat bijaku bertambah di harian hidupku….

13195203191584117659

cinta,tidaklah menyakiti namun cinta adalah memberi…memberi yang terbaik tanpa harus mendominasi dan mengkungkung…namun cinta adalah membebaskan, membebaskan setiap kehendak dan keinginan namun tetap di ikat dengan doa dan kasih sayang….

Semoga episode ini kelak juga akan membuatmu lebih bahagia, meski lubuk hatiku aku tahu kalian berdua sakit…aku berharap ada kebaikan dari ini semua, ku hantar kalian dengan doa, bibir tipisku semakin menyungging senyuman, sebelum grand livina ini membelah Jakarta ku pandangi lagi tumpukan berkas di sampingku, ya…aku berhasil, di saat harus ada air mata ternyata Tuhan tetap tunjukan kebahagiaan untukku, pengajuan bea siswaku untuk S3 ku akhirnya lolos, dan tiket bea siswa itu kini ku kantongi….

Awal tahun depan aku berangkat, terbang…ya terbang kembali, menyapa summer, snow, dermaga, daun mapple serta pucuk-pucuk pinus…senyumku semakin mengembang…aku semakin merindukan Hamburg, dengan sketsa-sketsa kecilnya yang hitam putih…tekadku semakin kuat, kelak novel berikutnbya akan lahir di sana kembali…

Namamu adalah kutukan bagiku….semoga kau tahu itu…

[ Diary Sang Penggoda ] Suamimu Menggodaku

Oleh : Zee Zee

Kunikmati malam ini di beranda. Kusapu pandanganku kearah pijar-pijar lampu malam yang terlihat indah di kejauhan. View of night dan memandang indahnya rembulan sungguh membuatku betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu sambil menunggu kedatanganya. Terdengar bell berbunyi. Cepat-cepat kulirik dan melihat Aeiger yang melingkari dilenganku, 22: 45 WIB dan berjalan ke arah pintu. Pasti itu Panji karena ia telah berjanji menemuiku seperti biasa. Ku buka grendel pintu dengan segera, langsung saja wanita itu menyerobot masuk.

“Jadi ini apartment yang Panji belikan buatmu” serbu wanita yang berdiri di depanku.

Matanya yang penuh selidik menyapu seluruh ruangan bagaikan singa yang sedang menggerayangi mangsanya. Wajah aristokrat didepanku adalah wanita yang cukup cantik jika tanpa riasan menor itu, denganbalutan Channel ditubuhnya berwarna marun dan perhiasan disana sini membuatnya seakan toko berjalan. Begitu kontrast dengan diriku yang hanya menggunakan Flesh Revlon sebagai perona bibir dan tampil sederhana dengan lingerie hitam serta beraromakan Elizabeth Harden. Nada suara high heel yang terdengar wara wiri mengungkapkan ketidaktenangan wanita didepanku.

“Maaf, anda siapa” ujarku lembut dan tetap mencoba ramah terhadapnya sekaligus kupersilahkan ia untuk duduk, hatiku bertanya adakah ia wanita yang Panji ceritakan padaku.

“Jangan berbasa basi denganku, aku hanya mau kau meninggalkan Panji ”, katanya masih dengan keangkuhan yang luar biasa dan dikeluarkan sigaret berserta pemantik dari tasnya yang juga bermerk International . “Biarkan Panji kembali padaku”, ujarnya seraya mengeret pemantik dan menghirup dalam-dalam lalu membuang asapnya tepat di wajahku.

“Apa maksud kedatangan anda kemari, maaf jika tidak ada keperluan, silahkan anda keluar dari apartment saya” kataku masih dengan kelembutan seperti biasa dan berdiri mempersilahkan tamu tak diundang
ini untuk pergi. Lalu, Ia mematikan sigaretnya.

“Dasar perempuan tak tahu malu, pasti kau menjual tubuhmu untuk mendapatkan apartment ini dari Panji kan. Aku yakin kau telah memberinya guna-guna”, semburnya cepat sambil berdiri dan mendekatiku. Aku sedikit mengambil jarak darinya. “Tidak mungkin ia dengan mudah mencampakkan aku begitu saja, jika kau
tidak berbuat sesuatu yang gila”, katanya dengan tangan melayang diudara.

Kutangkis dan kutahan lengannya sebelum mampir dipipi mulusku.

“Jangan pernah menyakitiku, aku tidak kenal siapa kau, dan jika kau adalah wanita yang Panji ceritakan padaku.
Kau memang pantas untuk dicampakkan olehnya.” Ujarku tenang. Panji sudah menceritakan segalanya tentang wanita ini, istri yang dipilih orangtua Panji untuk dinikahi . Wanita yang culas dan angkuh menurut Panji, hanya mementingkan harta dan karir. Aku baru empat bulan mengenal Panji, masih berasa seperti kemarin saat bertemu Panji dibanding wanita di depanku ini yang telah menjadi istri Panji selama 4 tahun perkawinan mereka yang tidak pernah merasakan keharmonisan dan kebahagian.

“Berapa kau jual tubuhmu kepada Panji?”, ujarnya dengan binar marah diwajah. Aku tahu semua apa yang kau
lakukan bersama Panji, katanya seraya membanting beberapa lembaran photo ke atas meja. Pandangan
ku sekejap mengarah ke meja, itu memang photoku bersama Panji dalam beberapa pose di peraduanku. Terpikir
olehku darimana wanita didepanku ini mendapatkannya. Adakah ia menyewa jasa
detectif cinta untuk menguntit seluruh aktivitas asmaraku bersama Panji melalui kamera tersembunyi di
kamarku. Kapan dan bagaimana mereka masuk ke apartmentku.

“Aku bahkan tahu bahwa kau pergi ke dukun untuk mendapatkan dia” cercanya seakan ingin menelanku dan tertawa lirih. Dasar perempuan licik. Berapa banyak lelaki yang pernah tidur denganmu? Aku yakin kau hanya memoroti harta mereka saja termasuk Panji. Berapa Panji membayarmu untuk semalam” , dampratnya kepadaku. Aku sedikit masgul mendengar ucapannya padaku. Jika ia tahu bagaimana aku membeli
apartment ini dengan setiap tetes keringat darah yang kubayar selaku seorang sekretaris. Uang yang kukumpulkan selama 5 tahun masa kerjaku. Tapi, ku tetap berusaha tenang menghadapi amarahnya yang kian membara.

“Tidak perlu kulakukan semua itu, aku tidak perlu orang pandai, dukun atau pun guru spiritual untuk mendapatkan suamimu. Ia yang datang padaku atas keinginannya, tanpa aku perlu merayu. Dan aku dengan
senang menerimanya”, jawabku. “Apa yang kami lakukan bersama atas rasa suka dan kesenangan semata” jelasku.

“Syiet!!! makinya. “Jika seluruh wanita pengganggu suami orang mengaku sepertimu, aku yakin kalian sudah akan dirajam oleh seluruh istri dibumi ini” sindirnya sinis.

“Kau boleh tertawa, tapi suamimu lah yang datang menawarkan padaku tanpa pernah kupinta. Dan aku
sangat,sangat menikmati apa yang ia berikan padaku, termasuk tubuh dan gairahnya diatas ranjangku. Jangan pernah menguatirkan apapun dariku, karena aku tidak akan merampasnya darimu” uraiku dengan membela diri.

“Wanita hina yang tidak berhati nurani”, kecamnya padaku.

“Jika kau menyebutku tidak berhati nurani, dimana letak martabatmu sebagai istri selama perkawinanmu?
Adakah kau menjaga marwahnya sebagai suami?” timpalku dengan senyum kecil.

Plakkk!!! Ditamparnya wajahku. Dan balik kulayangkan tanganku ke wajahnya. Plakkkk!!! “Jangan pernah menyakitiku, ini peringatan kedua dariku. Silahkan anda meninggalkan apartmenku”, ujarku seraya mendekat ke pintu dan membukanya sekaligus mengusir wanita ini untuk pergi.

“Kau akan menyesali semua perbuatanmu terhadapku”, katanya dengan nada intimidasi padaku seraya meninggalkan apartmentku.

Ku melangkah memasuki kamarku dan duduk didepan meja rias, perlahan ku tarik laci narkas didepan dan mengeluarkan sebuah kotak musik hitam. Kukeluarkan selembar photo usang dari dalamnya dan kupandangi wajah kekasih hatiku, “Arga”, bisikku . “Andai saja kau tidak pernah pergi meninggalkanku, pasti hal ini tidak akan terjadi” ujarku parau. Kupandangi terus wajah Arga yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Panji. Dan semuanya semakin kabur diiringi tetes air mata yang jatuh dipipi.”Semoga kau damai disana” pintaku lirih.

[Diary Sang Penggoda] Aku dan Hasratku

Oleh : Bungashaina

Malam ini…
Lelakiku puaskan rindu padamu, habiskan detik demi detik hanya milik kita berdua
Sepanjang malam aku terjaga, takterlelap sedikitpun
Entah apa yang telah kutelan, yang pasti malam ini hanya milik kau dan aku

Aku benci dunia dengan segala kemunafikannya
Mengapa harus ada hitam dan putih
Ahh…..ini terlalu rumit bagiku
kepalaku berputar-putar, berfikir dan berfikir
Untuk apa dan siapa, ini kujalani…

Libidoku membara, dalam luapan rinduku padamu
Kuraih engkau, kudekap penuh hasrat
Geloramu yang membara menuntunku
Berlari lebih jauh dan jauh lagi
Menuju awan-awan mimpi

Jejak merah dan lumatanku…
Terpadu apik dengan bualan-bualan dosa atas nama cinta
Malam ini kau lelakiku
Bisikan-bisikan asmaraku membawamu tertidur pulas dalam dekapanku
Sampai terbit fajar
Ini dosa atau cinta ??
Aku tak tau, yang pasti kau adalah KEBAHAGIANKU…


*****

Malam ini dia masih terkapar diatas seprei kusut, lampu kamar yang temaram. Sunguh , malam ini geloraku dan dirimu tak terkalahkan dengan nurani.

Kuhisap rokok terahirku, asapnya terbayangkan tadi siang….. Istrimu datang padaku, membawa segepok uang. Kuhisap rokokku lagi, kuhembuskan, lelakiku masih tergolek telanjang.

” Aahh….peduli setan, aku tak butuh uangmu !! . Aku hanya butuh gelora suamimu ….” itu ucapku

Malam menatapku sepi, dunia memang rumit….

[Diary Sang Penggoda] Terjebak

Oleh : Bungashaina

” Guubraaaaaaaaakk…. “

” Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt……. “

Kurasakan tangan kukuh menggendongku, masuk ke mobil dan membawaku ke klinik terdekat.

” Bagaimana Dok, apa dia baik-baik saja ? ” kudengar suaranya yang sangat cemas.

Inilah awal perkenalanku dengannya, seorang lelaki mapan, pengusaha muda, punya rumah, dua buah mobil dan dari keluarga yang sangat kaya. Kecelakaan dua minggu lalu, adalah skenarioku agar aku bisa menjeratnya. Aku sengaja menabrak mobilnya. Dan semalam adalah saat-saat yang paling kunantikan, ketika akhirnya dia menyatakan cinta padaku.

” Dinda, maukah kau menjadi kekasihku, mendampingiku hari ini, esok dan selamanya ? “

Aku memeluknya sangat erat, inilah saat yang kutunggu. Tentu saja aku akan bersamamu, hari ini, esok dan selamanya semasa pundi-pundi koinmu masuk kekantongku.

Menjadi kekasih Robby adalah saat-saat yang menyenangkan bagiku, tentu saja dengan kerlingan mataku, desahan nafas dan tubuhku yang membuatnya tidak bisa lepas dariku.

Dia sangat bertekuk lutut padaku, menjadi kekasihnya berarti uang bulananku adalah tanggungannya, uang salon dan semua yang kubutuhkan termasuk kebutuhan keluargaku dipenuhinya. Huuuuft aku lega sukses menjeratnya.

Menjadi wanita penggoda bukanlah cita-citaku, tetapi karena aku ditakdirkan menjadi anak sulung dengan banyak adik, aku dipaksa harus mau mencari uang untuk ikut menopang keluargaku yang miskin. Sedang aku sendiri sebenarnya tidak punya keahlian apa-apa, hanya punya tubuh dan wajah yang cantik saja . Aku bosan dengan kemiskinan yang kujalani, apapun akan kulakukan agar aku bisa menikmati hidup mewah.

***

Robby, memintaku untuk pindah ke rumahnya. Lelaki itu benar-benar sedah bertekuk lutut padaku, bahkan pembantu rumahnyapun sudah ada dalam tanganku.

” Sayang, sebaiknya sayang pindah kerumah saja . . . rumah menjadi hidup kalau ada sayang ” ucapnya sambil memegang tanganku.

” Abang bukannya aku tidak mau, tetapi kita kan belum ada ikatan, Abang tak usah kuatir aku akan selalu ada untukmu, kapanpun, dan Abang juga tau aku lebih sering menginap ditempat Abang dari pada ditempat kostku…”

Aku sengaja menolak permintaan itu, tentu saja dengan air mata berlinang. Robby memelukku sangat erat, Aku tau pasti kalau keluarganya akan menolakku untuk jadi menantu dan akupun tidak perduli.

” Sabar ya Sayang, mereka pasti akan menerimamu suatu hari nanti ” suara Robby pelan.

Selama dua tahun menjalin hubungan dengan Robby, entah sudah berapa ratus juta uangnya yang masuk padaku. Aku benar-benar menikmati hidup ini. Pekerjaanku di kantor hanyalah untuk membuatku tampak sibuk saja. Sampai suatu hari Eva teman nakalku menelpon . . . .

”Tika, lw ada waktu ngga ntar malam . . . Gw butuh orang nich….Pliss bantu ya…”

” Yach lw kan tau, gw ngga kencan sejak dapat kakap… sorry ya..”

” Cuma malem ini aja, 5 juta lumayan kan…..”

Seharian aku sibuk di salon, Aku tak kuasa menolak permintaan Eva. Eva adalah orang yang mengajariku betapa mudahnya mencari uang tidak halal, Dia juga yang mencarikan aku tempat ketika pertama kali datang ke Jakarta.

Malam ini adalah kencanku yang pertama setelah dua tahun aku menjalin hubungan dengan Robby.

Kamar 313, Aku menemani seorang Bos minyak, dan dia sangat puas denganku, bahkan dia meninta nomor ponsenku. Kami sedang menikmati sarapan dan siBos itu menerima telepon. Tiba-tiba kamar diketuk. . . .

” Honey, tolong bukakan pintu ada relasiku ….”

Kubuka pintu, dan aku sangat terkejut karena Robby ada di depanku ………

****

(Sad Romance) Dalam Bimbang, Kunikmati dirimu

Oleh : Bungashaina

Wepe sangat terpukul setelah putus cinta dengan Herry seseorang yang sangat mempesonanya. Dalam kesedihan ini Wepe berjanji akan mengubah dirinya, dia harus sembuh. Segala pekerjaan di kantor diembatnya dengan harapan bisa melupakan Herry dan bisa hidup normal seperti pria lainnya.

Kesibukan Wepe di kantor rupanya menjadi perhatian Mr Kolis atasannya yang ternyata juga hombreng, diam-diam naksir Wepe tapi menepi karena wepe menjadi kekasih Herry.

Mr Kolis dengan gencar mendekati wepe dengan berbagai cara, dari mengajak makan siang, mengirim email-email misterius dan yang terakhir dia sengaja membuat pesta Gay khusus untuk Wepe.

Kerena kegigihan Mr Kolis, akhirnya Wepe mengurungkan niatnya untuk sembuh. Hadiah-hadiah yang diberikan Mr Kolis membuatnya menerima cinta lelaki setengah baya itu. Merekapun tidak pernah melewati hari-hari tanpa bercinta dan berlendir.

Suatu hari, Wepe yang sedikit matrek mengajak kekasihnya Mr Kolis jalan ke Mall untuk belanja keperluannya. Bagi Mr Kolis apalah artinya uang, yang penting hasrat hombrengnya tersalurkan. Selain itu dikalangan para hombreng Wepe adalah sang Primadona. Jadi mereka dengan bahagia layaknya sepasang kekasih jalan ke Mall.

***

Mall sangat ramai, di ujung terlihat Herry sedang bergerak dengan kekasih barunya Elang. Seperti biasa Herry sang maskot hombreng tak segan segan memberi banyak hadiah pada kekasihnya. Setelah keliling belanja mereka makan di cafe Mall, secara tidak sengaja meja tempat duduk mereka berhadapan dengan meja Mr.Kolis dan Wepe.

Ternyata Elang adalah mantan kekasih Mr Kolis yang diam-diam masih mencintainya dan Wepe tentu saja masih sangat mencintai Herry. Entah kenapa pertemuan itu menjadikan mereka teringat saat bersana di toilet Cafe ini.

Wepe-pun pamit ke toilet disusul oleh Mr Kolis. Herry gelagapan dia tau pasti apa yang akan dilakukan Wepe dan Mr Kolis di toilet, diapun tidak mampu membendung hasratnya untuk menyusul ke toilet bersama Elang.

Ternyata hasrat mereka semakin tak terbendung, Wepe masih mencintai Herry dan hasratnya disalurkan ke Kolis. Sementara Elang yang mesih mencintai Kolis hasratnya di salurkan ke Herry.

Dunia memang gila, mereka sedang bermain gila di Toilet , diam-diam AA tersenyum dengan kamera di tangannya……

[Diary Sang Penggoda] Cintaku Untuk Suamimu

Oleh : Youly Chang


Sore ini langit agak mendung, matahari sedikit tertutup awan yang berarak, sebentar lagi hujan, angin berhembus kencang menyapa kulitku ketika wanita itu datang.

Ya, wanita itu, seorang ibu muda berkulit kuning langsat, rambutnya di cat warna coklat, serasi sekali dengan penampilannya, anggun dan cantik. Ya aku ingat wanita itu, wanita yang pernah melabrakku, menghinaku dengan sebutan wanita pelacur, penggoda suami orang, hanya karena dia menemukan fotoku di dompet suaminya, beserta surat-surat cinta yang diberikan suaminya kepadaku lewat email. Sayang sekali…

Saat ini dia sudah berada di hadapanku, namun kali ini dia bawakan deal atau tepatnya deal transaksi tukar suaminya dengan uang, sebuah penawaran cukup menggairahkan dan manis, kulihat sepintas nilainya sama dengan cincin berlian idamanku, dengan sombongnya dia menawarkan sejumlah uang agar aku mau memutuskan hubungan dan melepaskan suaminya.

“Hai jalang, katakan berapa yang kau butuhkan, kuberikan berapapun untuk suamiku!” katanya dengan sangat angkuh.

Suaranya agak keras, sedikit emosional, ini wajar, mungkin dia marah padaku karena suaminya main gila denganku.

Masalahnya? Benarkah Cuma aku yang salah?

“Maaf, aku tak ingin uangmu, aku Cuma ingin suamimu, itu saja”

Tenang, nyaris tanpa ekspresi ketika kujawab pertanyaan anehnya

“Lancang kamu!!… dia sedikit menghardikku, wajahnya terlihat geram dan marah.

“Kau tidak lebih dari sekedar pelacur murahan yang di bayar untuk tidur dengan suamiku!!”

“Sabar dulu….., take it easy… pelankan sedikit suaramu, tak perlu menghardikku, atau apakah kau juga terbiasa menghardik suamimu layaknya seorang pelayanmu?”

“Harusnya kamu tanya pada diri kamu sendiri, mengapa suamimu lebih suka bersamaku dari pada denganmu, istrinya sendiri..!”

Wanita itu mengepalkan tangannya, tertunduk lunglai, perlahan airmatanya mengalir. Dia terduduk. Diam. Hening.

“Selama ini kau tidak begitu memperhatikan dia, kau sibuk dengan kehidupan glamourmu, jadwalmu padat dengan urusan diluar keluargamu, anak-anakmu bahkan bingung yang mana ibunya, kau atau pembantumu?, kau sibuk dengan duniamu. Sedikitpun kau tak pernah memperhatikan keperluan suamimu”.

“Jangan salahkan aku….!”

“Suamimu hanya merasa kesepian, apa yang dia butuhkan tidak kau penuhi, dan dia mendapatkan semuanya dariku. Tiap saat dia menemuiku. Tiap malam dia memintaku untuk menemaninya. Dan kami bercinta, kepuasan itu tak ada harga!”

“Tak perlu menangis..!”

“Aku bukanlah wanita yang kejam seperti yang kau kira, aku bukan pembunuh apalagi perampok, aku tidak berniat merebut ayah dari anak-anakmu, aku hanya menginginkan apa yang aku mau, aku menikmati suamimu. aku menikmati rasa cintanya padaku. aku hanya butuh kepuasan, setelah itu dia boleh pulang kerumahmu dan kembali menjadi milikmu.

Pulanglah….aku cuma ingin bercinta dengan suamimu…tidak lebih

Berjalan tenang, kutinggalkan perempuan itu, dia masih tertunduk lesu dengan selembar cek ditangan.

Sang Penari [Striptease]

Oleh : Youly Chang


“Aku adalah sebuah kutukan,demikian sang angin mengabarkan sebuah cerita. Lewat deburan ombak dipantai, mereka bertutur tentang biruku yang pudar. Hingga akhirnya, aku mencuri lempengan merah pada sang pelangi, agar biruku bercampur dengan merah, dan kini hanya violet yang tersisa. aku ada pada malam tak berawan, mungkin mereka terlalu menikmati dan memuja bulan, sehingga mereka lupa pada sang bintang”.

Dentuman musik berkumandang, pertanda puncak acara akan segera di mulai, buru-buru kuselesaikan dandananku, “perfect” gumamku dalam hati, aku begitu mengagumi diriku sendiri. Perlahan tapi pasti aku keluar dari balik panggung gemerlap, tepuk tangan para penonton, seakan tak sabar menanti aksiku.

Kuikuti hentakan music, sambil memulai aksiku, perlahan satu persatu kulepaskan baju yang membungkus tubuhku, sambil terus melenggak-lenggokkan tubuh kulempar bajuku ke arah tamu, suara gemuruh tawa dan teriakan dari para lelaki yang duduk di kursi meminta agar aku terus melepaskan bajuku hingga tak selembar kainpun melilit di tubuhku. Namun aku sengaja tak menghiraukannya, aku terus bergoyang, mendekati seorang pria setengah baya, kulenggokkan pinggulku padanya, dia sepertinya tau apa yang kuinginkan, lelaki itupun menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke underwearku, lalu perlahan kubuka underwearku sambil terus bergoyang, dihadapan lelaki itu, suara nafasnya menjadi tak karuan, lalu kutinggalkan lelaki paruh baya tersebut ke lelaki lainnya yang tak sabar ingin menikmati aksi ku di hadapan mereka, mereka para penikmat malam tampak sangat puas dengan penampilanku, mereka mengagumi setiap lekuk tubuhku. Aku berpesta, dan aku puas malam ini. Akulah Sang Bintang, orang-orang manggilku Diva.

Aku hanya seorang penari, tepatnya penari streaptease yang dibayar hanya untuk menari. Tapi tidak untuk di tiduri. Bukan untuk materi melainkan hanya untuk sebuah kesenangan, aku terlahir dari keluarga yang serba berlebihan, ayahku adalah orang yang cukup terpandang di negri ini, namun aku tak peduli, aku muak dengan segala kemunafikan. Aku merasa ada kesenangan tersendiri saat melihat para pria hidung belang begitu menikmati tarian tubuhku yang indah, ada berapa banyak yang ingin membayarku, hanya untuk tidur dengan mereka. namun kutolak.

Malam ini penampilan yang kesekian dariku,namun kali ini agak sedikit berbeda dari biasanya, kata bosku, tamu-tamu kali ini adalah tamu exclusive.

“kamu harus mengerahkan semua kemampuanmu Diva” tamu-tamu kita malam ini adalah petinggi negeri. Mereka ingin menikmati malam bersamamu Diva Sang Primadona Malam. Aku hanya tersenyum sembari mempersiapkan diri untuk penampilanku malam ini.

Aku keluar dari panggung, kali ini mengenakan topeng menyerupai angsa putih, lalu para pejabat mulai bertepuk tangan. Aku kembali memulai aksiku. Menari, bergoyang, meliuk-liukkan tubuhku. Perlahan aku membuka satu persatu kulepaskan bajuku, hingga tak selembar kainpun menutupi tubuhku, lalu kubuka topengku.

Namun tiba-tiba dari antara penonton yang hadir, ada seorang lelaki paruh baya naik kepanggung dan..

PLAK!!!!! Dia menamparku, mengambil bajuku yang berserakan agar menutupi tubuh telanjangku, dan menarik tanganku. Namun kutepis.

“Apa-apaan ini?????!!!!…Kau berani mempermalukanku didepan umum, ayo pulang!!” kata laki-laki paruh baya itu menghardikku sambil menyeretku turun dari panggung.

“Aku tidak mau pulang!! Ini duniaku!! “Tak kalah sengit aku membalas hardikannya, seraya berusahan melepaskan cengkraman tangannya padaku.

“Kurang apa selama ini yang aku berikan padamu, heh!! sehingga kau berani-beraninya mempertontonkan tubuhmu kepada semua lelaki???!!!! Apa tidak cukup aku menjaminmu setiap bulan? Kenapa kamu harus mencari uang haram dengan cara seperti ini????” lelaki itu tampak sangat marah padaku.

“Apaa??? Malu???Uang Haram???? Mengerti apa bapak tentang uang haram?? Lantas selama ini uang yang bapak pakai untuk bersenang-senang serta memperkaya diri, dari hasil mencuri uang rakyat kecil, apa itu bukan uang haram??? ,tak dapat kubendung lagi emosiku, aku muakk dengan kemunafikannya.

Lelaki paruh baya itu tertunduk malu. Entah malu pada orang banyak atau malu pada dirinya sendiri, entahlah.

“Aku memang menghasilkan uang dengan jalan yang haram, tapi yang kukorbankan adalah diriku sendiri, hidupku sendiri, dan tubuhku sendiri. Bukan seperti bapak, yang bersenang-senang dengan uang hasil korupsi, yang mengorbankan rakyat banyak!!”.

Lelaki itu hanya bisa diam, dia tak lagi membalas ucapanku. Lelaki itu adalah ayahku, seorang pejabat pemerintahan yang rakus kekuasaan dan materi, yang tanpa perasaan berdosa mencuri uang rakyat demi kesenangan pribadi. Pernah masuk bui atas tuduhan korupsi. Namun tidak lama ia dibebaskan dari hukuman karena sudah menyogok sang hakim.

Aku tidak malu dengan pekerjaanku sebagai penari streaptese, aku lebih malu lagi punya ayah seorang koruptor.

Aku melangkah pergi meninggalkan tempat ini…..

“Menyesal? Tidak, Hidup terlalu indah jika hanya diisi dengan penyesalan. Aku tidak akan pernah menyesal, karena alam sendiri tidak pernah menyesal mengikuti aturan mereka…… “

****White Lily****

Catatan Seorang Gay…

Oleh : Youly Chang

Samar-samar herry menatap bayangan dirinya pada sebuah cermin. Siapa yang harus kupersalahkan? sebagai manusia, aku sering bertanya, benarkah hidup adalah sebuah pilihan?, jika memang hidup adalah sebuah pilihan, mengapa Tuhan tidak memberikanku pilihan untuk hidup secara normal….

Salahkan jika aku mencintai jenisku sendiri? Jika memang itu sebuah kesalahan, lalu mengapa aku di takdirkan untuk hidup seperti ini. kadang hati kecilku menjerit dan berkata “Aku teramat lelah dengan keadaanku ini!”.

Tapi bukankah hidup bukan untuk disesali?. Hidup adalah sebuah misteri, tak ada yang pernah tau, apa yang akan terjadi. Kami kaum gay lebih suka menyembunyikan identitas kami, berdandan layaknya pria normal pada umumnya. Untuk menghindari cibiran dan tatapan hina dari orang-orang sekililing kami.

“Banyak yang membenci kami dan lebih suka melihat kami mati atau tidak pernah lahir daripada melihat kami berjalan di sekitar mereka”.

Apartement Tower Blue, Lantai IX

Aku menyibak vitrase, hingga jendela bebas memaparkan pemandangan luar. Ku lirik wajah Pe’i yang sedang berbaring di ranjang.

“Apakah kau tetap pada keputusanmu herry?”. Pe’i bertanya, wajahnya terlihat gamang.

Aku hanya diam tak menjawab, sebenarnya aku kasihan pada Pe’i. Namun jika kami masih meneruskan hubungan kami, akan timbul banyak masalah. Dan tentunya akan semakin parah dengan karakter kami berdua yang sudah melangkah sejauh ini. Pe’i tak tahu jika besok dia tak akan pernah bertemu dengan aku lagi.

“Herry aku pengen mencium kamu sayang”. Kata Pe’i agak berbisik.

Permintaan Pe’i kali ini semakin membuatku kalut, bagaimana mungkin aku menolak? namun jika aku memenuhi permintaannya, kami berdua akan kembali larut, dan saat aku pergi, itu akan menambah rasa sakit pada Pe’i. Akhirnya dengan berat hati aku menggelengkan kepala.

“Tidak Pe’i…kita tidak perlu berciuman lagi, kita jadi sahabat saja sama seperti dulu, bukankah persahabatan jauh lebih abadi? Dimana tak pernah ada rasa benci ataupun cemburu. Kita akan lebih bisa saling menerima keadaan masing-masing..”.

“Kenapa herry, aku ingin lebih dari seorang sahabat bagimu, aku mau kita seperti dulu, kita saling memiliki..” sambil menatapku tajam.

Aku tak kuasa menatap mata Pe’i yang terlalu tajam menusuk, seolah mau membaca apa yang sedang kupikirkan.

Kupalingkan wajahku untuk menghindari tatapan matanya. Pe’i menangkap tanganku dan meremasnya dengan kuat, seakan takut aku meninggalkannya.

Aku menarik tanganku dari genggaman Pe’i, aku harus jujur, bahwa aku ingin pergi bukan sebagai kekasih Pe’i lagi, aku sangat ingin hidup seperti lelaki normal lainnya, dan aku takut jika aku masih berhubungan dengan pe’i, aku tidak akan menjamin jika hubunganku dengan tyas tidak akan mendapat masalah, pe’i dapat melukai siapa saja yang berada di sampingku, aku tidak ingin pe’i melukai tyas, wanita manis yang selama ini telah menyadarkanku dan membawaku ke jalan yang terang. Kutinggalkan pe’i dalam kesedihannya. Meskipun tak sanggup, namun aku yakin ini jalan yang terbaik untuk mengakhiri hubunganku dengan pe’i.

“Ini hanya sebuah cerita fiksi belaka, fiksi ini hanya bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa sebagai manusia, terkadang kita berlaku tidak adil pada kaum yang menyimpang, didunia ini dimana kaum gay dan lesbian telah mendapatkan perlakuan yang tidak aman dan tidak nyaman. Namun satu hal, mereka juga adalah manusia biasa, yang layak untuk hidup kawan”.

Salam Hangat Penuh Damai ~ Youly Chang

Oh Emak Oh Ibu

Oleh : Hawa

5 tahun yang lalu waktu emak mengantarku ke terminal bus antar provinsi guna merantau dan berangkat kuliah ke Jakarta, dia sangat cantik, tradisional dan keibuan, rambutnya hitam licin dan panjang, dia rajin pakai minyak kemiri buatannya sendiri, kebaya dan kain batiknya khas menampilkan tampilan alami perempuan Indonesia.


“Juned pergi dulu mak, mak jaga diri baik-baik ya”. begitu kataku waktu terakhir kali mencium dan memeluk emak sebelum keberangkatan bis yang akan membawaku ke Jakarta.

Pesan emak dalam uraian air matanya padaku

“Kamu harus rajin belajar, jangan nakal, kamu harus sukses dan tunjukkan pada orang-orang dan jadi contoh buat mereka, kalau orang desa seperti kita juga bisa jadi sarjana”

“iya mak”.

______

Pesan emak kuingat terus, bahkan sampai hari ini. rasanya 5 tahun sudah berlalu sejak kepergianku dari desa untuk belajar dan kuliah. kemarin wisudaku, hari ini rasanya rindu pada emak sudah tidak terbendung lagi. aku rindu semua tentang emak, aku rindu bau harum minyak kemiri di rambutnya, sambal terasi dan sayur nangka muda yang dia buat untukku, aku rindu semua yang ada pada emak dan desaku.

Desa tempat lahirku sepi dan miskin, 5 tahun yang lalu jalan masuk ke desa masih tanah belum beraspal, kalau kemarau debu-debu dengan mudahnya menempel di daun-daunan dan pohon-pohon, sementara kalau hujan jalan seperti adonan dodol yang kental dan lengket.

orang-orang masih bertani secara tradisional, maklum mereka ortodoks dan kuno sekali, mereka tidak bisa maju dan berkembang, cara bertani pun masih tradisional dan turun temurun. salah satu alasan inilah yang membuat aku akhirnya memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan pertanian.

“Kalau orang luar tidak bisa mengubah orang-orang desa untuk berfikiran maju, maka orang dalamlah yang harus melakukannya, dan itu aku!”.

Dengan tekad membara kuselesaikan kuliahku. dan hari ini rasanya kepulangan ke desa menjadi suatu yang sangat berharga sekali, tak ternilai dengan apapun.

____

Hari ini, sejak kepergianku lima tahun yang lalu, ada banyak perubahan yang kulihat jelas dan nyata, kebun-kebun sepanjang jalan menuju desa kini tersusun rapi dengan tanaman-tanaman karet, getah pohon mengalir putih membentuk setengah lingkaran dan menetes pada mangkuk-mangkuk yang memang sudah disediakan. Sepeda motor dan mobil-mobil pribadi pun sudah lalu lalang dengan bebasnya. anak-anak gadisnya pun sudah keliaran dengan baju yang tak kalah modern nya dibanding gadis kota. Desaku sudah benar-benar maju rupanya.

tiba-tiba seseorang dalam angdes yang kutumpangi menuju ke desa bercerita padaku.

“Lima tahun yang lalu ada petugas PPL yang datang, dia mengajari penduduk desa bagaimana caranya bertanam karet, dan sekarang penduduk desa sudah mulai menikmati hasilnya. kehidupan pun pelan-pelan mulai membaik. bahkan ada seorang perempuan dari desa itu sekarang sudah jadi tauke karet, namanya Juminah, tapi orang sering memanggilnya dengan sebutan Ibunya Juned”.

“busyettttttt, itu kan emak?”

belum hilang penasaranku angdes yang kutumpangi berhenti tepat didepan rumah yang kata supir angdes ini rumahku.

sampai di depan rumah aku mengucek mata berkali-kali, rumah itu berubah total, dari yang super tradisional berubah menjadi bangunan permanen lengkap dengan profil-profil mediterania pada dinding-dindingnya, lantai keramik dan halaman dipasang con blok lengkap dengan lampu taman dan tanaman-tanam anturium mahal menghiasi teras.

“Jangan-jangan emak sudah pindah rumah dan ini rumah milik orang lain”. aku bergumam

“Halo nak, udah pulang ya, kabarmu gimana?”

Tiba-tiba dari dalam rumah muncul suara seorang perempuan dan rasanya suara itu sudah tidak asing lagi buatku, Ya Allah itu suara emak. aku semakin bingung dan tercengang ketika Emak muncul didepanku dengan penampilan yang berbeda, mirip dengan penampilan emak-emak di sinetron.

Rambutnya yang biasa disanggul dan dikasih minyak kemiri, sekarang dipotong sebahu, wajahnya cerah dengan sapuan make up di wajahnya, kain dan kebaya yang biasa melekat ditubuhnya dia gantikan dengan lejing dan dan baju ketat. ditangan dan lehernya melingkar kalung dan gelang emas.

“Emak”

Aku masih tidak percaya dan dengan apa yang kulihat

“Akhirnya kamu pulang juga nak, emak…eh … Ibumu sudah lama menunggu kepulanganmu dan ibu yakin kamu pasti pulang”

“Ibu?, sejak kapan Emak jadi ibu?”

Ya, Tuhan kenapa begini? ada apa ini? Kenapa emak jadi ibu? kenapa pula dandanan emak jadi kayak artis?

tapi belum sempat aku bertanya, emak sudah menarik tanganku kesamping rumah, disana ada garasi mobil dan begitu pintunya dibuka ada sebuah mobil seperti mobil yang kuidam-idamkan.

“Ini mobil khusus ibu belikan untuk hadiah kelulusanmu nak, kamu suka kan, oh ya minggu depan kita syukuran dan pesta besar-besaran, ibu sudah sewa orgen tunggal dan kita remix -an sampai pagi, oke?”

aku diam

“Oh, Ibu sudah masak brownies dan fried chicken untukmu, ayo kita makan, kamu pasti laper kan?, nanti abis makan kamu ajarin Ibumu ini main facebook ya, orang-orang desa sini sudah banyak yang punya akun, Ibu sudah beli laptop dan modem, nanti sekalian kamu add pacarmu yang di Jakarta itu, Ibu mau kenalan, oh ya kalau ada sekalian Pin BB nya ya?”

aku bengong nyaris seperti sapi ompong, kosakataku hilang seketika dan tiba-tiba, tidak ada satupun yang keluar dari mulutku….Oh Emak……………eh Ibu…….

***HE***

[Sad Romance] Di Pantai Itu Mereka

Oleh : Hawa

Malam, tepi pantai

Semilir angin laut menghempas bibir pantai, pasir bergerak perlahan tersapu lembut air laut, sepasang kekasih ada disana, duduk berdua ditemani kelip-kelip cahaya bintang nun jauh diatas langit.

Ada masing-masing gelisah pada hati sepasang kekasih itu, bagi mereka ini adalah malam terakhir mereka menikmati kebersamaan. Tangan mereka terus bergandengan seakan tak ingin berpisah. Tadi sore sebelum janjian bertemu di pantai masing-masing sudah tahu apa yang akan terjadi untuk mereka berdua, untuk perjalanan kisah cinta yang mengharu biru.

“Maafkan aku”, ucap sang lelaki lirih

“Untuk apa?”, kekasih lelaki itu bertanya

“Kamu pasti sudah tahu maksudku mengajakmu kesini, disini pertama kali kita bertemu tapi disini juga perpisahan kita sayang, aku tahu kamu sedih dan tidak siap menerima semua ini, tapi ini realita, cinta kita tak dapat diteruskan lagi”

Kekasih lelaki itu menunduk, kakinya bergerak terus memainkan pasir pantai, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ucapan lelaki itu begitu perih dan menyakitkan, bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya setelah ia memberikan semua hati dan cintanya, rasanya ini tidak adil dan sungguh-sungguh tidak adil.

“Ssssstttttt”, lelaki itu meletakkan telunjuknya dibibir kekasihnya.

“Jangan salahkah Tuhan sayang, salahkan saja aku!, bagaimanapun akulah penyebab semua ini”

“Tidak, ini bukan cuma kesalahanmu, jangan menyalahkan diri sendiri atas semua ini, bagaimanapun aku juga salah”

“Cinta suci kita dibangun diatas realita dan kepedihan, dimana dunia akan sulit menerimanya sayang, terlalu banyak rintangan bila ini diteruskan”

Kekasih lelaki itu diam, matanya mendongak kelangit, pelan-pelan butiran cristal lembut mengalir diujung matanya yang bening.

“Kalau nanti dilahirkan kembali, aku hanya ingin kita jadi sepasang merpati!”

Kekasih lelaki itu menangis, air matanya terus mengalir tak terbendung. “Ini tidak adil, tidak adil!”, bibirnya terus mengumpat seakan ingin menyalahkan apapun yang ada disekitarnya.

Lelaki itu memeluk kekasihnya, pelukan terakhir kali.

“Maafkan aku sayang, aku yakin kamu pasti kuat, aku tahu ini pedih, tapi cinta kita harus dikubur selama-lamanya, percayalah padaku, kamu pasti kuat!”

Kekasih lelaki itu mengangguk perlahan.

“Pergilah, aku masih ingin disini, percayalah, aku akan baik-baik saja, tinggalkan aku sekarang, pergilah!”

Lelaki itu pun meninggalkan kekasihnya di tepi pantai penuh kenangan itu, langkahnya gontai perlahan. Dalam langkahnya untuk terakhir kali, dia menoleh perlahan pada kekasihnya.

“Maafkan aku, Herry, aku tahu ini berat sayang, maafkan aku”

Lelaki itu kemudian berlalu meninggalkan kekasihnya. Kekasih lelaki itu masih duduk di batu tepi pantai penuh kenangan itu. Ucapan lirih nan sendu keluar dari bibir manisnya.

“Aku mencintaimu Wepe, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun, kau adalah cinta pertama dan terakhirku, walau aku tahu ini salah, tapi akan tetap mencintamu”

Malam bergerak perlahan menemani Hery yang masih duduk termangu sambil menatap kepergian Wepe dari sisinya, di tepi pantai itu.

“I Love You Forever, Wepe”

“Ah, Cinta kadang seperti Jailangkung, Datang Tak Dijemput, Pulang Tak Diantar”

[Diary Sang Penggoda] Kekasihmu Merayuku

Oleh : Hawa

Wanita itu datang padaku, dengan langkah anggun terkesan tergesa-gesa, wajah ayunya dipoles make up tipis dan sederhana, sedikit perona pipi dan lipstik warna merah tanah muda, rambutnya dia sanggul mungil menampilkan sedikit poninya yang terurai.

Dia mengenakan blouse ungu muda, dengan rok mini diatas lutut, paha dan betisnya yang putih dan mulus sedikit terekspose karena minimnya bahan rok yang dia pakai. sepatu yang dia kenakan sepatu mahal, aku tahu itu, aku selalu impikan bisa miliki sepatu seperti itu, tiap pulang kerja selalu kuamati pajangan sepatu itu dalam etalase sebuah boutiqe tidak jauh dari tempat kerjaku.

ah, aku memang berbeda dengan perempuan ini, aku baru bermimpi saja tentang sepatu itu, kapan bisa kubeli, tapi dia sudah memakainya untuk menemuiku.

“aku mau bicara, penting!”, begitu katanya setibanya dia didepanku

kami lalu mengambil tempat yang agak sudut di restoran ini, dia dan aku kemudian duduk berhadapan.

“tentang apa?”,

“Lelakiku!”

“Silahkah…!”, jawabku santai tapi dengan penegasan bahwa aku siap mendengarkan apapun yang dia ingin ucapkan tentang yang konon katanya itu “Lelakinya”

“Dasar cewek penggoda!”

begitu katanya, alamak, kagetnya aku, wanita yang kuanggap berpendidikan dan berintelektual tinggi ini, tanpa basa-basi langsung mengucapkan kata seperti itu padaku. amboiiiiiiiii

“terima kasih”, jawabku santai

“Satu hal, ingin kutanya padamu, sudah berapa lama kau menggoda kekasihku!”

“ini tentang apa?, kembali kupasang mimik wajah ku yang kata sebagian orang “innocent”

“oh, ya”

“Sudahlah, aku sudah tau semuanya, jangan pura-pura lagi!, apa kamu tidak mampu cari yang lain sampai kamu harus menggoda kekasih orang, aku juga heran, kok mau-maunya dia sama kamu!”

pelayan datang membawa segelas kopi hangat yang kupesan, pembicaraan terhenti sebentar.

“mari ngopi”, ucapku sambil menghirup nikmatnya kopiku.

“Kamu itu siapa sih, nggak sebanding sama aku apalagi sama dia, asal tau bukan levelku menemui seorang perempuan yang cuma pelayan restoran, kalau kamu tidak ada apa-apanya sama kekasihku”

hmmmmmmmm, kata-kata perempuan itu tak sebanding dengan nikmatnya kopi yang kuminum…..senyum misterius nan menggoda milikku ku hadapkan ke perempuan itu.

“kamu tahu, susah payah kujalin cinta dengan dia, rusak begitu saja karena kamu menggodanya!”

“oh ya”

“dasar perek!!”

“eittt, sekasar itukah Nona”

“shut up!!!”

habis bilang begitu dia diam, kuseruput lagi kopiku, setelah itu kuletakkan diatas piring alas gelas diatas meja. kopi sore yang nikmat, gumamku dalam hati, kapan lagi aku menikmati kopi seperti ini lagi… entahlah kesibukan kerja direstoran kadang membuat aku tidak punya waktu sedikitpun memanjakan diri dengan menikmati segelas kopi.

dia masih marah padaku, aku tau dia sangat marah. kemarahan beralasan baginya, karena selama ini dia mengira akulah yang menggoda kekasihnya.

“Jangan menuduhku begitu, aku tak suka, mestinya kau tanya dulu kekasihmu, kenapa dia menggodaku, aku memang sang penggoda seperti katamu, aku suka kau memanggilku sang penggoda, karena itu aku”

“aku tak perlu pledoi apapun, karena aku memang sang penggoda”

“apa kemiskinan yang membuatmu begini?, kasihan kalau itu benar!”

“Up to you Miss, tapi aku masih muda dan ingin menikmati hidup, menurutku uang bisa dicari, tidak harus jadi sang penggoda, dan kekasihmu tampan, aku suka”

wanita itu marah, pipinya yang semakin merona.

“apa yang dia lakukan padamu?”

“biasa aja, dia mencium bibir dan leherku, nikmat sekali, aku membebaskan dia mau jadi apa saja dihadapanku, tak ada aturan, aku bercinta sepuasnya dengan kekasihmu, tak ada larangan, tak ada moral, aku masih muda, nikmati saja”

“Beda denganmu, perempuan perfeksionis ……. konon!”

“Dasar pelacur!”

“Eittttttt… bedakan dulu, aku menikmati kekasihmu hanya untuk kepuasan, bukan uang, dia yang menggodaku lebih dulu, bukan aku..!”

wanita itu semakin marah padaku, aku mendengar gerutuk-gerutuk giginya menahan marah padaku….

kuhirup kopiku terakhir kali, tersisa ampasnya saja di dasar gelas

“Asal tahu nona, aku hanya menikmati saja kekasihmu, bukan untuk berkomitmen, tenang saja, dia akan tetap menikahimu sesuai janjinya… ini cuma kegilaan masa muda aku dan dia, aku tak pernah bermimpi kalau aku menjalani hidup dengan lelakimu itu, begitu pun dia, sekali lagi aku cuma menikmati saja kekasihmu, bukan memiliki!!”

“Kekasihmu merayuku, bukan aku yang menggoda!”

kutinggalkan dia sendirian di meja itu, bersama gelas kosong kopi sore milikku.

—-

Sang Penggoda, 24/10/2011

Artikel Populer